Loading…
Penyakit A-Z

Rubella

Imunisasi measles, mumps, dan rubella (MMR) adalah cara terbaik yang sekarang ada untuk mengurangi risiko terjangkit rubella. Di Indonesia, vaksin ini masih belum disubsidi oleh pemerintah, tetapi Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian vaksin ini.

Sesuai namanya, selain melindungi dari rubella, vaksin ini juga mengurangi risiko penyakit gondong dan campak. Vaksin MMR diberikan umumnya saat balita berusia 15 bulan dan diulang saat anak berusia 5-6 tahun. Pada enam bulan pertama, bayi umumnya terlindungi dari virus ini karena mendapat kekebalan dari ibunya.

Lepas dari usia tersebut, vaksin ini sebenarnya dapat diberikan pada usia berapapun, terutama saat remaja atau pada perempuan yang sedang merencanakan kehamilan. Bahkan vaksin ini aman diakses kembali kalaupun sebelumnya sudah pernah mendapat vaksin yang sama. Namun perlu diingat bahwa vaksin MMR dapat menimbulkan risiko bagi bayi dalam kandungan. Oleh karenanya, hindari kehamilan dalam jangka waktu sebulan setelah mendapatkan vaksin ini.

Vaksin ini juga dapat diberikan setelah persalinan untuk melindungi diri dari rubella di masa yang akan datang. Vaksin MMR yang diberikan pada ibu menyusui tidak akan membawa risiko pada bayi. Ada kalanya juga Anda perlu mendapatkan vaksin ini sebelum bepergian ke negara lain, terutama daerah dengan kasus rubella tinggi. Tetapi Anda sudah tidak perlu mendapat vaksin MMR jika tes darah mengindikasikan bahwa Anda telah memiliki kekebalan terhadap campak, rubella, dan gondong.

Jika belum mendapat vaksin MMR, Anda sebaiknya segera meminta akses pada vaksin ini terutama jika:

  • Bekerja di rumah sakit, tempat penitipan anak, sekolah, dan fasilitas kesehatan lain.
  • Berencana melakukan perjalanan ke luar negeri.
  • Wanita yang tidak hamil tapi berada di usia produktif.

 

Tetapi vaksin ini sebaiknya tidak diberikan pada beberapa kelompok berikut:

  • Orang yang alergi berat terhadap vaksin MMR yang pernah diberikan sebelumnya atau alergi terhadap gelatin dan antibiotik neomycin.
  • Wanita hamil dan yang berencana hamil dalam 4 pekan kemudian.
  • Pengidap kanker, kelainan darah, atau penyakit serupa, dan yang mengonsumsi obat yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Kelompok ini perlu berkonsultasi lebih dulu ke dokter sebelum divaksin MMR.

 

Sekitar 15% dari yang menerima vaksin MMR mengalami demam antara 7 – 12 minggu setelah imunisasi. Sementara sekitar 5%-nya mengalami ruam kemerahan. Sangat sedikit orang mengalami alergi serius terhadap vaksin ini. Selain itu beberapa wanita muda dapat merasakan sendi nyeri dan kaku sementara setelah menerima vaksin ini.

Beberapa orang, termasuk di Indonesia, menyebut vaksin MMR sebagai salah satu pemicu meningkatnya angka anak yang mengalami autisme. Tetapi serangkaian penelitian hingga kini menemukan bahwa tidak ada hubungan secara ilmiah yang mengonfirmasi hubungan sebab akibat antara autisme dengan vaksin MMR.

Facebook Comments