Loading…
Penyakit A-Z

Rubella

Selain dari gejala-gejala yang terlihat, diagnosis rubella dapat dilakukan dengan pemeriksaan sampel darah atau air liur.

Gejala rubella sering terlihat menyerupai gejala beberapa penyakit lain. Untuk itu perlu dilakukan tes sampel darah atau air liur (tidak rutin dilakukan) untuk mengonfirmasi. Dokter atau perawat akan mengambil darah dari pembuluh darah di lengan atau air liur untuk memeriksa keberadaan antibodi tertentu.

Antibodi adalah protein tubuh yang diproduksi untuk menghancurkan racun atau organisme pembawa penyakit. Hasil pemeriksaan darah ataupun air liur ini akan menjadi positif terhadap antibodi tertentu di bawah ini bahkan jika pasien dulunya telah pernah mengalami rubella.

  • Antibodi IgM positif jika terdapat infeksi rubella baru.
  • Antibodi IgG positif jika pasien telah divaksin untuk melawan rubella ataupun pernah mengalami infeksi rubella di masa lalu.

 

Jika tidak ada antibodi yang positif, itu berarti seseorang belum divaksin untuk melawan rubella dan belum pernah mengalami kondisi ini.

 

Diagnosis pada Wanita Hamil

Infeksi rubella pada wanita hamil berisiko menyebabkan gangguan serius pada janin. Pemeriksaan darah mutlak diperlukan untuk mendiagnosis infeksi yang mungkin terjadi. Jika seorang wanita hamil belum pernah divaksin, ia perlu segera dirawat terutama jika:

  • Mengalami gejala rubella.
  • Lebih dari 15 menit berada di ruang yang sama dengan pengidap rubella.
  • Telah berkontak langsung dengan pengidap rubella.

 

Jika hasil tes ternyata positif, pasien akan segera dirujuk ke dokter kandungan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gangguan pada janin. Pemeriksaan terhadap risiko ini dapat dilakukan dengan amniosentesis dan USG. Apabila kondisi janin buruk (jarang terjadi), dokter akan menawarkan apakah kehamilan akan diteruskan atau tidak.