Loading…
Penyakit A-Z

Obesitas

Obesitas berbeda dengan kelebihan berat badan. Obesitas dapat dikatakan sebagai kondisi kronis seseorang yang mengalami masalah berat badan akibat kelebihan jumlah lemak tubuh dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Selain kurang menarik dipandang, obesitas dapat mengurangi kualitas kesehatan dan menjadi sumber penyakit-penyakit kronis. Obesitas dapat diderita oleh semua jenis kelamin dari berbagai usia, baik perempuan dan laki-laki di usia lanjut, usia produktif, remaja maupun masih balita. Untuk mengetahui gejala, pencegahan maupun pengobatan obesitas lebih lanjut kita dapat berkonsultasi dengan dokter gizi.

 

Definisi Obesitas

Obesitas adalah kondisi kronis seseorang yang mengalami masalah berat badan akibat kelebihan jumlah lemak tubuh dan dapat menyebabkan beragam gangguan kesehatan.

Berbeda dengan overweight (kelebihan berat badan dari berat badan ideal yang biasanya disebabkan oleh timbunan jaringan lemak maupun non lemak yang ada di dalam tubuh), obesitas dapat dikatakan sebagai tingkatan yang lebih parah kondisinya karena tidak lagi membuat seseorang kurang sedap dipandang namun yang jauh lebih signifikan: obesitas dapat mencederai kualitas kesehatan dan merupakan awal dari hampir seluruh penyakit degeneratif dan kronis.

Penyakit-penyakit degeneratif dan kronis yang awalnya dipicu karena obesitas, beberapa di antaranya adalah hipertensi, diabetes mellitus (kencing manis), asam urat, kolesterol, stroke, penyakit jantung, dan kanker.

Siapa saja yang dapat menderita obesitas?

Obesitas dapat diderita oleh semua jenis kelamin dari berbagai usia. Baik perempuan dan laki-laki, baik di usia lanjut, di usia produktif, di usia remaja, bahkan saat di usia balita. Namun, penyebab masing-masing golongan usia dapat berbeda-beda.

Tubuh yang gemuk adalah sebuah hal yang umum terjadi pada laki-laki atau wanita usia 30, 40, atau lebih. Hingga seiring pertambahan usia seseorang dapat mengalami obesitas karena efek penuaan (growth hormone). Pasalnya, saat seseorang mulai menginjak usia 30 tahun, tubuh mengalami penurunan kadar beberapa hormon tertentu yang merupakan efek alami dari proses penuaan. Di saat tersebut, tubuh mengalami ketidakseimbangan ataupun kekurangan hormon pertumbuhan (growth hormone) dan hal ini dapat mengakibatkan kegemukan hingga obesitas.

Pada usia produktif, obesitas dapat terjadi akibat faktor gaya hidup yang  tidak sehat. Obesitas di usia produktif terkait beberapa faktor yang saling berkaitan. Dimulai dari faktor kemampuan ekonomi yang memungkinan mampu membeli aneka makanan dan minuman, faktor lingkungan yang didukung sepenuhnya oleh tekhnologi yang pada akhirnya menyebabkan gaya hidup sedentari yang kurang aktifitas fisik.

Sedangkan menderita obesitas di usia remaja dan di usia balita bisa disebabkan oleh faktor lingkungan keluarga atau pola pengasuhan keluarga. Pola makan yang buruk dan kurangnya aktifitas fisik pada anak menyebabkan mereka mengalami obesitas di usia dini.

Apa yang terjadi dalam tubuh seseorang yang obesitas?

Pada tubuh seorang perempuan obesitas ia mengalami kelebihan berat badan yang 25% nya akibat tumpukan lemak, sedangkan pria obesitas 20% nya adalah lemak. Biasanya, tambahan tumpukan lapisan lemak terdapat di sekitar paha dan dada.

Konsekuensi terbesar dari pola makan yang buruk dan kurang olahraga yang mengakibatkan obesitas ini adalah penderitaan pada organ-organ tubuh yang kinerjanya menjadi terganggu akibat lemak ekstra pada tubuh. Jantung adalah organ yang paling menderita saat tubuh mengalami obesitas. Otot jantung bekerja lebih keras karena risiko penggumpalan darah meningkat, dan sirkulasi darah yang dihasilkan ke seluruh tubuh menjadi lebih sulit karena timbunan lemak yang menutupi aliran darah.

Tak hanya jantung, paru-paru menjadi lebih susah bekerja dengan baik pada tubuh orang yang obesitas. Seperti arteri yang mengelilingi jantung, paru-paru penderita obesitas menghadapi risiko besar dengan adanya kelebihan lemak.

Jumlah besar jaringan adiposa pada paru-paru kekurangan kapasitas untuk udara akibat adanya ekstra lemak pada tubuh. Hal ini menimbulkan risiko signifikan untuk sistem pernapasan ventilasi karena menjadi lebih buruk. Fungsi paru-paru yang buruk pun membuat pembuluh darah mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen.

Sumber: mayoclinic.org, nhlbi.nih.gov, medicalnewstoday.com, obesityaction.org