Loading…
Artikel, Kehamilan

Hormon dan Emosi di Awal Kehamilan


Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone
tanda-awal-kehamilan-ini-sering-anda-rasakan

Hamil merupakan anugerah bagi setiap perempuan yang berkesempatan mengalaminya. Di sisi lain, ketika dinyatakan positif hamil berarti Anda (dan pasangan) telah memulai masa di mana kehidupan (Anda berdua dengan pasangan) akan menjadi lebih penuh “drama”! Sudah siap atau terdengar mengerikan?

Terjadinya Perubahan Psikologis

Satu kenyataan yang harus dihadapi saat hamil adalah, kehamilan dapat berefek kuat pada emosi perempuan, hingga dapat berubah tiap menit. Bukan tanpa sebab, ini dikarenakan saat hamil perempuan mengalami perubahan kadar hormon dalam tubuh.

Para ahli telah menemukan hubungan antara kadar hormon dan neurotransmitter otak (terutama serotonin, senyawa yang mengatur mood). Sebagian besar perempuan akan menjadi lebih sensitif karena adanya perubahan kadar hormon saat kehamilan ini.

Bahkan, bagi yang beruntung sekalipun, hamil atau tidak, mereka yang suasana hatinya tidak mudah terpengaruh akan peningkatan kadar hormon dalam tubuhnya, tetap akan menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi emosi.

Bagaimana tidak, bayangkan saja bagaimana rasanya saat Anda merasa kelelahan, tidak nyaman, atau stress dikarenakan “perubahan besar dalam hidup”, yakni kehamilan dengan segala keunikannya. Jarang ada perempuan yang melewati masa-masa kehamilan tanpa berjumpa dengan salah satu dari tantangan-tantangan kehamilan yang umum dialami.

Makin takut untuk hamil (hamil lagi)? Jangan! Jalani dan nikmati saja, proses dan perjalanan hidup selama 9 bulan yang akan naik-turun ini, dan bersiaplah untuk takjub!

Lonjakan Hormon dan Pengaruhnya

Setiap wanita yang pernah menatap hasil positif dari sebuah alat tes kehamilan akan melontarkan beragam ekspresi, seperti: “Rasanya sangat mendebarkan! Seperti akan mengubah hidup!” mungkin juga ada yang berkomentar: “Ini menakutkan” atau mungkin ada akan merasa bahwa “Ah, ini menjengkelkan!”. Ragam komentar tentang kehamilan itu disebabkan hormon-hormon yang akan naik turun seperti roller coaster.

Namun ironisnya, Anda harus sepakat untuk bisa kompromi dengan hormon-hormon yang berfluktuasi. Karena aksi fluktuatif itulah yang berperan menumbuhkembangkan janin dalam rahim. Ibarat pepatah “you are your own enemy”, itulah hubungan Anda dengan hormon-hormon dalam tubuh Anda sendiri.

Lonjakan hormon sebenarnya adalah sebuah kenormalan yang harus terjadi pada perempuan hamil demi keberlangsungan hidup si calon bayi. Contoh, ada sebuah hormon bernama human chorionic gonadotropin (hCG), inilah hormon yang akan meningkat tajam pada trimester pertama, kemudian menurun dan berada pada level terendah di sekitar empat bulan usia kehamilan.

Hormon hCG berfungsi untuk mempertahankan janin agar dapat terus menempel pada rahim ibu. Kekurangan hormon hCG dapat menyebabkan terjadinya flek-flek atau yang terparah dapat menyebabkan keguguran. Ketika usia kehamilan ibu mencapai 14 hingga 16 minggu, plasenta telah terbentuk dan menggantikan fungsi hCG bersama dengan hormon progesteron.

Sedangkan, hormon lain seperti progesteron dan estrogen (yang meningkat sepanjang sembilan bulan) membantu mempertahankan kehamilan serta meningkatkan dan melancarkan aliran darah dari uterus ke plasenta, juga mempersiapkan payudara ibu dalam memproduksi ASI.

Lonjakan hormonal ini sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang janin, walau terkadang akan terasa sangat sulit bagi bumil melewatinya. Peningkatan hormon hCG, misalnya, dapat menyebabkan mual di pagi hari. Peningkatan hormon estrogen dan progesteron pun sering dikaitkan dengan kemurungan dan perasaan sensitif (ini sebabnya perempuan hamil bisa lebih mudah berlinangan air mata dibandingkan dengan yang tidak hamil).

Seringnya, istirahat bukanlah suatu hal yang dapat dipilih, terutama jika Anda telah memiliki anak (si calon kakak). Dan ketika ibu hamil tidak merasakan sukacita seperti yang mereka bayangkan, bumil akan merasa bersalah lalu berpikir ada sesuatu yang salah dengan mereka. Padahal: tidak!.

“Beri diri Anda waktu beristirahat,” saran tegas dari Dr Puryear, penulis buku Understanding Your Moods When You’re Expecting. “Dan ketahuilah bahwa 99,9 persen perempuan hamil yang telah memiliki anak juga mengalami beberapa hal yang sama dengan yang Anda rasakan: kelelahan. Jadi Anda tidak sendiri, dan  hal ini dapat diatasi,” lanjut Puryear.

Harus apa?

Alih-alih merasa payah dan tidak berdaya dengan keadaan yang ada, berikut ini tips-tips yang dapat dilaksanakan guna membantu Anda merasakan kehamilan yang lebih nyaman.

Atur ulang ritme kerja dan minimalisir beban kerja

Berbelas kasih lah pada tubuh,  merupakan sebuah kewajaran bila Anda merasa mudah lelah, merasa sakit di bagian perut, dan menjadi lebih sulit fokus atau mudah hilang konsentrasi.

Sempatkan lebih banyak istirahat dan tidur berkualitas

Perempuan yang sedang hamil baiknya banyak berupaya untuk melawan pikiran-pikiran negatif dan tanamkan dalam diri bahwa Anda dapat melewati ini semua dengan baik. Dua cara ampuh untuk bisa tetap berpikir positif adalah memperbanyak jumlah atau durasi beristirahat dan pastikan Anda memiliki tidur yang berkualitas

Perluas jaringan sosial dan perkaya ilmu

Bergabunglah dalam forum yang membahas tentang kehamilan. Selain bisa menjadi ajang berbagi dan bertukar informasi, kegiatan ini juga dapat berfungsi sebagai pengurang stres akibat rasa cemas atau emosi negatif lain saat hamil.

Sumber: Parents, Mayoclinic, WebMD

Facebook Comments