Loading…
Penyakit A-Z

Angina Pectoris

Gejala angina pectoris yang sering sulit dibedakan dari serangan jantung membuat pengidapnya perlu segera memeriksakan diri ke dokter begitu sekali mengalaminya. Dokter akan memeriksa kemungkinan risiko pasien mengalami penyumbatan pembuluh arteri oleh substansi lemak atau aterosklerosis. Kondisi inilah yang menyebabkan serangan angina.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter umumnya mungkin memeriksa:

  • Tekanan darah.
  • Tes darah untuk mengukur kadar glukosa (untuk pengidap diabetes) dan kadar kolesterol darah.
  • Berat badan dan lingkar pinggang.
  • Tes urin untuk memeriksa kerja ginjal.

 

Tes-tes di atas diperlukan karena beberapa obat-obatan untuk angina tidak tepat untuk pengidap sakit ginjal dan hati.

Dokter  juga akan memeriksa gaya hidup pasien, seperti apakah sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, atau memiliki kebiasaan merokok, dan juga riwayat kesehatan keluarga.

Jika hasil tes menunjukkan bahwa pasien memang mengidap angina, dokter kemudian akan merujuknya ke spesialis kardiologi atau spesialis jantung pembuluh untuk memeriksa apakah pasien berisiko mengalami stroke atau serangan jantung di masa yang akan datang.

Sebagai langkah antisipasi jika serangan angina datang lagi, dokter mungkin akan meresepkan Isosorbide Dinitrate (ISDN) atau glyceryl trinitrate yang dapat meringankan gejala dengan cepat sementara pasien menanti pertolongan spesialis atau dalam perjalanan ke UGD.

Pemeriksaan lebih lanjut kemudian akan melibatkan serangkaian tes lain sebagai berikut.

  • Electrocardiogram (ECG). Sejumlah elektroda ditempatkan pada dada, lengan, dan kaki untuk merekam aktivitas elektrik dan ritme jantung. Elektroda ini terhubung pada mesin yang merekam sinyal elektrik tiap detak jantung. Jika hasil pemeriksaan ini tidak normal, maka bisa jadi mengindikasikan bahwa otot jantung tidak mendapat cukup aliran darah.
  • Exercise tolerance test (ETT). Alat yang berbentuk serupa dengan ECG ini  digunakan untuk mengukur seberapa keras kegiatan yang dapat ditolerenasi jantung sebelum gejala angina terasa. Alat ini dikenakan saat pasien diperiksa sambil berolahraga, seperti sepeda statis ataupun treadmill. Dengan alat ini, dapat diketahui seberapa parah gejala angina yang dirasakan pasien.
  • Myocardial perfusion scintigraphy (MPS). Alat ini umumnya digunakan ketika hasil ETT tidak terbaca jelas. MPS dilakukan dengan suntikan radioaktif dalam jumlah kecil ke dalam darah. Pergerakan radioaktif dalam pembuluh darah ke jantung ini kemudian dipantau oleh kamera gama. Pengukuran ini dapat memberikan gambaran bagaimana kerja darah mencapai jantung.
  • Angiografi koroner. Digunakan untuk mengidentifikasi penyempitan arteri koronerl. Teknik ini digunakan jika diagnosis angina masih belum jelas.

 

Teknik diagnosis yang digunakan dokter akan bergantung pada kondisi fisik pasien dan hasil pemeriksaan awal dokter.